Rabu, 17 Oktober 2007

Keutamaan Sedekah Bagi Seorang Muslim

[Pikiran Rakyat] - Bapak ustaz yang saya hormati, di dalam Alquran ada disebut kata sedekah. Apa keutamaan sedekah bagi Muslim? (Yudha, Bandung)

Saudara Yudha yang berbahagia, semoga Saudara senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Sedekah adalah pemberian dari seorang Muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah (haul dan nishab) sebagai kebaikan dengan mengharap rida Allah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang Muslim, termasuk sedekah sebagaimana hadis dari Abu Musa r.a. berkata bahwa nabi saw. bersabda, ”Tiap Muslim wajib bersedekah.”

Sahabat bertanya, ”Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, ”Bekerjalah dengan tangannya yang berguna bagi dirinya dan ia dapat bersedekah.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat,” jawab Nabi, ”Membantu orang yang sangat membutuhkan.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?” Jawab Nabi, ”Menganjurkan kebaikan.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, ”Menahan diri dari kejahatan, maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.”

Hadis tersebut menggambarkan 4 tingkatan. Pertama, bekerja dan berusaha dengan kemampuannya sehingga ia mendapat keuntungan dan dari keuntungan itu ia dapat bersedekah. Keutamaan seorang Muslim jika ia bekerja dengan tekun penuh keikhlasan, ia akan kuat secara ekonomi yang dipandang oleh Allah lebih baik dan lebih dicintai. Kepada Muslim yang diberi rezeki oleh Allah kemudian ia menyedekahkannya di jalan Allah kita patut meneladaninya sebagaimana hadis dari Abdullah bin Mas’ud riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah bersabda, tidak ada iri hati yang diperbolehkan, selain terhadap dua hal, yaitu, terhadap seorang Muslim yang dianugerahi harta benda dari Allah, lalu tergeraklah hatinya untuk menghabiskannya menurut jalan yang hak dan terhadap seorang Muslim yang telah diberi ilmu yang bermanfaat oleh Allah, lalu ia menggunakannya untuk mengadili manusia dan mengajarkannya.”

Kedua, membantu orang yang sangat butuh bantuan. Sangat dianjurkan sebagai salah satu bentuk kepedulian kemanusiaan, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 280, ”Dan jika orang yang berutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia memiliki kelapangan dan kemampuan. Dan bersedekahlah sebagian atau seluruh piutangnya itu lebih baik bagimu jika kamu betul-betul tahu.”

Ketiga, menyuruh kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh seseorang karena perintah dari seorang Muslim akan menjadi sedekah karena siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka seolah-olah ia melakukan kebaikan sebagaimana seseorang melakukan kebaikan. Keempat, menahan diri dari perbuatan yang buruk yang dapat menjerumuskan seseorang pada kezaliman sebagai bentuk sedekah, karena menahan diri adalah sikap yang cukup sulit untuk dilakukan dan hanya orang yang sudah terlatih saja yang akan mampu menahan diri dari segala bentuk kejelekan. Sedangkan latihan menahan diri hanya dapat dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa.

Dari penjelasan hadis di atas, sedekah tidak mesti dengan hanya mengeluarkan sejumlah materi atau uang, tetapi semua amal kebajikan yang dilakukan seorang Muslim, seperti menciptakan kebersihan lingkungan, bersikap santun, memberikan pendidikan agama kepada anak dan istri dan bahkan memberikan senyuman pun adalah sedekah (H.R. Baihaqi).

Sedangkan keutamaan sedekah di bulan Ramadan berdasarkan argumentasi sebagai berikut. Pertama, bersedekah mesti dalam keadaan sehat dan sangat ingin karena sedekah yang dilaksanakan pada saat menjelang kematian tidak ada gunanya. Hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhari bahwa seseorang berkata kepada Nabi saw., ”Sedekah yang mana yang lebih utama itu?” Nabi bersabda, ”Engkau bersedekah dalam keadaan sehat (shahih) dan berkeinginan (harish).”

Dan dalam riwayat lain bahwa orang kikir yang mengharap kaya dan takut miskin, kemudian menunda hingga roh (nyawa telah sampai ke tenggorokan, lalu berkata, ”Harta ini untuk si fulan dan untuk si fulan lain padahal harta kekayaan di waktu itu hampir berpindah ke tangan ahli waris.

Kedua, ada jaminan surga dari Allah bahwa sedekah akan melindunginya di hari perhitungan. Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Hakim dari ‘Uqbah ia mendengar Rasulullah bersabda, ”Setiap orang bernaung di bawah perlindungan sedekahnya hingga ditetapkan hisab (perhitungan) di antara manusia di yaumil akhirat.” Kemudian keutamaan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Ketiga, apa yang kita berikan di bulan Ramadan, maka ganjarannya sebanyak orang yang berpuasa. Hadis dari Zaid bin Khalid Al-Juhny yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, bahwa Rasulullah bersabda, ”Barang siapa memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia mendapat ganjaran sebanyak orang yang berpuasa, tidak kurang sedikit pun.”

Bersedekah merupakan aktivitas seorang Muslim yang memiliki sifat keutamaan, karena ketinggian derajat seorang Muslim ditentukan oleh sebesar dan sejauh mana ia memiliki kepedulian dan kepekaan sosial kepada Muslim yang lainnya. (Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag.)**

Dahsyatnya Sedekah

[Muallaf Center] - Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Suatu hari datanglah dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafadzkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita. Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkret kedua akhwat di atas, dengan penuh keyakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261).

Seruan Rasul itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya Rasulullah, harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah". "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah SAW. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya Rasul, saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya. Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Kenapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan untuk bersedekah? Tiada lain karena mereka yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah! Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'.

Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'. Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'. 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?,' tanya para malaikat. Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'. Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. Allah yang Mahagagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya'." Wallahu a'lam bish-shawab. ( KH Abdullah Gymnastiar )

Sabtu, 13 Oktober 2007

Memberi Manfaat Kepada Orang Lain – Bisakah Kita?

[Dadang Kadarusman Dotcom] - Dijaman ketika hidup tidak terlampau mudah seperti saat ini; memikirkan diri sendiri bisa jadi sudah merupakan warna paling kentara dalam keseharian kita. Padahal, memikirkan diri sendiri merupakan cikal bakal munculnya sikap mementingkan diri sendiri. Dan ketika seseorang sudah mementingkan dirinya sendiri; maka lupakanlah keberadaan sendi-sendi pengikat yang menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Sebab, ketika setiap orang sudah mementingkan diri sendiri; tidaklah mungkin mereka bersedia mendengarkan suara yang sayup berbisik melalui hati nurani. Jangan tanyakan lagi apa pedulimu kepada orang lain. Sebab, tanpa hati nurani, kepedulian kepada orang lain sudah dengan sendirinya berubah menjadi jenazah, yang tak mungkin kunjung bangkit hidup kembali. Sementara itu, dibelahan bumi kerontang hampir seribu lima ratus tahun yang lalu, konon seorang bijak berkata: Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Mungkinkah dijaman ini kita bisa menjadi manusia yang ’sebaik-baiknya’ itu?

Memberi. Sebuah kata yang penuh misteri. Mengapa kita harus memberi kalau hidup kita sendiri saja sudah sesusah ini? Sebuah pertanyaan yang beralasan. Terutama jika hidup kita sudah diliputi oleh semangat materialisme yang membutakan hati. Dengan demikian, sudah pasti hanya sedikit manusia yang bisa memberi kepada orang lain. Berapa pendapatan anda? Dijaman ini, anda yang berpendapatan 5 juta rupiah atau lebih sudah menjadi bagian elit yang konon tidak lebih dari 3% saja dari seluruh pegawai di Indonesia. Pendapatan resmi yang saya maksudkan. Jika pendapatan anda kurang dari 5 juta; dengan dua atau tiga orang anak, bagaimana anda mengelolanya – dan terutama bagaimana anda bisa memberi sebagian dari pendapatan itu untuk menjadi manfaat bagi orang lain? Sulit sekali bukan? Kita tidak sempat lagi memberi manfaat kepada orang lain. Maaf. Tapi, ya memang begitulah mekanisme berpikir materialistik kita. Betapa Tuhan berpihak kepada orang-orang kaya!

Tapi…, besar atau kecilnya nilai pendapatan tidak selalu melahirkan perbedaan bermakna atas sikap kita. Sekalipun, misalnya, pendapatan kita lebih tinggi dari itu, bahkan puluhan juta sekalipun. Atau mungkin anda, ada yang berpendapatan ratusan juta sebulan. Pada situasi seperti itu, kita bisa saja terjebak dalam bentuk ketidakberdayaan lain. Bukankah kadang kita masih menganggap bahwa pajak itu menghapuskan zakat? Sehingga kita merasa tidak lagi perlu membayar zakat karena – menurut kita – pajak sudah dengan sukarela atau terpaksa dibayarkan. Batin kita serasa sesak kalau melihat besaran angka pajak yang dipotong langsung di lembar kertas gajian kita. Lalu, sebuah serapah melompat dari mulut kita: Jalan didepan rumah gue, tetap saja gue-gue juga yang ngebenerin! Sedekah? Tanyakan saja kepada pemerintah. Bukankah mereka yang memungut uang pajak kita? Bahkan sebelum kita mencicipi hasil peras keringat itu. Semuanya sudah all in one. Lihatlah, Tuhan telah salah memilih orang. Tapi, setidaknya, mereka yang diberi Tuhan lebih banyak uang memiliki lebih banyak peluang. Untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sekali lagi, Tuhan berpihak kepada orang-orang kaya!

Hey tunggu dulu; apa iya demikian? Jika Tuhan hanya memberi ruang kepada mereka yang banyak uang; apa bedanya Dia dengan penguasa lalim? Akui saja kalau kita sering terjebak dalam pandangan bahwa memberi selalu berurusan dengan materi. Tidak lebih dari itu. Kita lupa, bahwa banyak hal non-material yang bisa kita berikan kepada orang lain. Dan itu memberi manfaat kepada mereka. Bahkan konon katanya, tersenyum saja sudah senilai dengan sedekah. Tentu saja senyum yang tulus. Lantas, jika ternyata Tuhan menyediakan ruang untuk memberi manfaat kepada orang lain itu melalui begitu banyak jalan; indah rupanya itu semua. Indah memberi manfaat kepada orang lain itu adanya. Karena, sekalipun kita termasuk jenis manusia-manusia dengan pendapatan yang pas-pasan – misalnya – kita tidak pernah kehilangan ruang untuk memberi manfaat kepada orang lain – supaya kita bisa menjadi sebaik-baiknya manusia.

Jika saya tidak punya uang; bolehkah saya memberi manfaat kepada orang lain dengan tenaga saya? Jika saya tidak memiliki tenaga yang besar, bolehkah saya memikirkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain? Duh, maaf. Saya bukan orang pintar. Tak mungkin saya bisa berpikir sejenius itu. Bahkan nilai matematika saya saja berwarna merah; bolehkah saya memberi manfaat kepada orang lain dengan mengatakan kepada mereka; anda orang yang diberkahi. Benar. Anda adalah orang-orang yang diberkahi. Anda mendapatkan bentuk tubuh yang indah. Tampan dan cantik. Dan menawan. Bisakah keindahan itu memberi manfaat kepada orang lain? Tidak. Saya tidak tampan. Jauh dari kata tampan. Bolehkah saya menampankan perilaku saya agar tak seorangpun terusik oleh tingkah dan langkah saya?

Tolong ijinkan saya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Agar saya tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia sebaik-baiknya. Tolong. Karena bahkan saya tidak tahu bagaimana caranya. Tolong. Karena saya tidak memiliki apapun yang bisa diberikan kepada orang lain. Jangan tanya berapa pendapatan saya, karena bahkan sebelum tanggalan dikalender menuju ke bulan tua; hati saya sering gundah – bisakah anak dan istri saya mendapatkan nafkah. Nafkah yang halal, maksud saya. Jangan tanya apa yang bisa saya kontribusikan karena bahkan selama ini saya masih mengharapkan seseorang datang dan menolong saya agar terbebas dari segala kesulitan. Saya mau. Saya mau memberi manfaat kepada orang lain. Tapi tolong. Saya tidak tahu bagaimana melakukannya. Tetapi, jika itu boleh dengan sesuatu yang bukan uang, mungkin saya bisa. Iya. Setidaknya, saya akan memberi manfaat kepada orang lain dengan cara tidak membuat mereka menjadi sulit. Jika saya tidak membuat orang lain susah; apakah bisa diterima itu sebagai pemberian bagi mereka? Jika saya tidak menjadikan orang lain kesulitan karena saya, bisakah saya menjadi sebaik-baiknya manusia? Bukankah saya boleh mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang yang tidak menyulitkan orang lain. Ah, entahlah. Itu urusan Tuhan saja. Jika Tuhan setuju, mungkin saya bisa menjadi sebaik-baiknya manusia, dengan tidak menyulitkan orang lain. Barangkali. Sebut saja itu cara paling murah. Paling lemah. Tapi, belum tentu selalu paling mudah.

Ngomong-ngomong, tahukah anda, siapa orang bijak yang mengatakan ”Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain” itu? Anda benar, nama kecil beliau adalah ’Ahmad’. Seorang anak yatim, kemudian piatu. Sang gembala domba milik majikannya. Dan benarlah apa yang dikatakannya bahwa: Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Sebab, ketika seorang manusia mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka tak seorangpun akan menyimpan dendam kepadanya. Mereka rela kepadanya. Mereka ikhlas menerima keberadaan orang itu. Hingga tak seorangpun dimuka bumi ini yang memiliki keinginan kecuali agar orang yang memberi manfaat itu tetap hidup. Tetap ada bersama mereka. Selalu mendampingi mereka. Selamanya. Dan ketika seorang manusia mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka tak akan pernah ada kebencian dihati orang-orang kepadanya. Selalu ada maaf, bahkan ketika dia belum hendak memintanya.

Selalu ada pengampunan, bahkan jauh sebelum dia melakukan kesalahan. Selalu ada. Selalu ada. Selama-lamanya. Dan ketika seorang manusia mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka sesungguhnya dia telah menjadi sebuah tangan yang mewakili Tuhan, kapan saja ketika Dia hendak menolong umatnya. Dan, begitulah tujuan Tuhan menciptakan manusia, bukan? Untuk memberi manfaat kepada manusia lainnya. Jika tujuan penciptaan itu tercapai; maka setiap orang yang pernah mendapatkan manfaat darinya akan senantiasa mensucikannya. Mengiringinya dengan doa penuh kesucian. Dan jika tujuan penciptaan itu tercapai; maka menjelmalah manusia itu sebagai manusia yang suci. Suci seperti ketika dia dilahirkan oleh sang bunda. Suci, seperti ketika Tuhan meniupkan ruh kedalam dirinya. Suci. Karena setiap manusia diciptakan dalam keadaan suci. Dan tangan Tuhan yang maha suci akan selalu terbuka untuk menyambut kedatangan manusia suci itu kembali kepadaNya dalam keadaan suci. Suci. Suci. Sehingga tak setitikpun noda yang tersisa didalam dirinya. Suci. Karena diri ini ingin kembali menghadap sang maha suci. Pulang, kesebuah rumah bernama fitrah. Direngkuh. Dan diraih. Oleh sebuah tangan yang suci. Dan berkumpul kembali. Dengan. Orang-orang. Yang Suci.

Senin, 08 Oktober 2007

Menu Utama

[Daarut Tauhid Jakarta] - Di dalam surat At-Thuur ayat 27-28. yang dikaitkan dengan Ar-Rahiim, sebagian ulama menyatakan bahwa kedermawanan Allah itu karena sayangnya kepada hamba-Nya, bukan karena ingin sesuatu dari hamba-Nya. Kalau kita bersikap dermawan, belum tentu dermawan karena sayng. Kita bersikap dermawan, atau bersedekah, paling buruk, mungkin karena takut dianggap pelit. Ada juga yang bersedekah supaya tidak diganggu atau direpotkan oleh peminta-minta. Sesungguhnya, memberi karena takut dianggap pelit, atau malas diganggu, lalu memberi, ini semua belum termasuk kategori dermawan. Ada yang sedekah dengan harapan imbalan. Ada orang yang dermawan karena berharap. Ada yang juga dermawan karena ingin dianggap dermawan. Dia suka sekali dianggap dermawan.

Yang baik itu adalah dermawan karena Allah. Ini adalah tingkatan yang tinggi. Sebagian kita kalau bersedekah itu ada harapan-harapan terselubung, misalnya :saya mau bersedekah nih….supaya terhindar dari musibah atau bala. Saya mau bepergian dengan pesawat, supaya pesawatnya tidak jatuh, maka saya bersedekah.

Dermawan atau bersedekah untuk suatu keinginan tertentu sebenarnya boleh-boleh saja, karena ada keterangan-keterangan tentang keutamaan atau fadilah bersedekah. Tidak salah kalau bersedekah karena ingin dilindungi Allah., karena itu memang janji Allah, dan itu juga jadi ibadah. Ada juga yang dermawan karena ingin dimampukan Allah membayar hutang, saya punya hutang sepuluh juta. Saya harus cari uang satu juta untuk saya sedekahkan. Kenapa? Karena janji Allah sepuluh kali lipat. Apakah boleh? Yah, boleh saja, karena janji Allah memang begitu. Hanya dalam hal ini ikhlas pedagang, melakukan amal dengan cara hitung-hitungan, berharap imbalan dari Allah.

Memang, seseorang beramal macam-macam niatnya. Ada yang ingin duniawi. Ada yang ingin pahala. Kenapa saudara ke Masjid? Karena pahalanya 27 kali lipat, luar biasa. Kenapa saudara shaum? Karena pahalanya tidak terukur. Kenapa saudara rajin shalat di Masjidil haram? Karena pahalanya setara dengan 100.000 kali shalat di tempat lain. Ada tipe orang yang hitung-hitungan terus jumlah pahalanya. Ini tidak apa-apa.

Ada orang yang levelnya lebih tinggi lagi. Dia tidak melulu memikirkan pahala. Tidak akan salah Allah menghitung, tidak usah ruwet mikirin pahala. Yang penting apa yang Allah suka, pasti baik untuk saya. Tidak banyak orang yang mikir tentang syurga. Tapi banyak juga yang…ah apalah artinya syurga, yang penting saya jumpa dengan Allah. Karena tidak ada kebahagiaan terbesar di akhirat kecuali bisa menatap Allah.

Kalau orang pikirannya sudah Allah. Hanya orientasinya Allah. Sudah, didunia saja sudah merasakan syurga. Orang yang hatinya selalu tertuju kepada Allah, didunia ini tidak begitu berarti baginya. Kecuali dunia ini, baru mendengar adzan saja, dia bisa dunia ini hilang. Rezeki terbesar memang ketika orang sudah Allah saja di hatinya.

Yang namanya tawadhu’, yang namanya syukur, yang namanya ikhlas, yang namanya zuhud, yang namanya wara’. Semua puncak amal itu pasti Cuma satu kekuatannya. Cukuplah Allah, hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’mal nashiir.

Nah, rekan-rekan sekalian. Kita ini termasuk kategori dermawan yang mana? Kalau kita belum mampu bersedekah harta, setidaknya mulai belajar dari hal-hal yang kecil, misalkan dermawan yang ringan dulu. Dermawan senyum. Dermawan dengan kata-kata yang memotivasi. Dermawan dengan do’a. kita agendakan do’a di dalam shalat kita. Kita ketemu pedagang Koran, do’akan, ya Allah mudah-mudahan tukang koran ini laku, berkah. Kalau melihat polisi di jalan atau perempatan jalan, do’akan agar Allah merahmatinya, memberkahi, rezekinya yang halal, dikaruniai kesehatan, dan lain sebagainya. Do’a, do’a, dan do’a. Dermawanlah dengan do’a. dermawanlah dengan perhatian. Dermawanlah dengan ilmu.

Saudaraku sekalian, saya sangat berharap setiap kita, kalau mencari uang untuk diri kita sendiri. Apa yang aneh? Kalau kita sibuk mencari nafkah untuk diri kita, keluarga kita. Apa yang aneh? Justru nilai manusia kita, kalau kita mencari bukan hanya untuk kepentingan kita, itu baru bagus. Kerja keras, makanan kita dimakan tetangga, dimakan sanak saudara, dimakan orang lain, itu baru manusia yang manfaat.

Siapa saja yang menyimak ceramah ini, jadilah pendakwah di kantor masing-masing, dikeluarga masing-masing, mulai dari hal yang sederhana. Bila masuk waktu shalat, segera langsung ke Mushalla, ajak teman shalat berjamaah. Kita tahajju, kita bangunkan keluarga kita, anak, istri, mau ke Masjid, ajak anak. Jangan shaleh tunggal. Mudah-mudahan lebih berarti dan itulah kedermawanan kita.

Demikian bahasan Aa pada kesempatan kali ini, selamat menikmati indahnya hidup dengan bersedekah, selamat menjadi manusia-manusia yang manfaat bagi sesama.

Minggu, 26 Agustus 2007

Tiga Cara Bersyukur

[Kebun Hikmah] - Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS Alnahl [16]: 18).

Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.Bersyukur merupakan salah satu ibadah mulia kepada Allah yang mudah dilaksanakan, tidak banyak memerlukan tenaga dan pikiran. Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya.

Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah.

Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.

''Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).'' (QS Aldhuha [93]: 11).

Sabtu, 16 Juni 2007

Yang Kita Dapat Dengan Memberi

If you give from your heart, you will receive in abundance.

[Edu Muslim] - Memberi merupakan kekuatan hebat. Sudahkah kita menyadarinya? Bagaimana mungkin? Ya, dengan memberi, maka kita bisa mendapatkan rewards yang mungkin tidak kita pikirkan. Nyatanya, dengan banyak memberi tidak pernah menjadikan seseorang berubah menjadi miskin. Yang sebenarnya terjadi, memberi justru lebih menolong diri kita sendiri, bukan orang lain.

Pernahkah kita mendengar bahwa mereka yang memiliki kekayaan sejati dan kesuksesan senantiasa terlibat dalam ‘aksi sukarela’ alias beramal? Kebanyakan mereka tidak hanya menulis cek dan menyumbangkan uang kepada yang membutuhkan, namun mereka juga memberikan waktu, tenaga, membangkitkan kepercayaan dan terlibat langsung dalam event-event sosial. Mereka tidak berusaha membuat jarak dengan para charity. Hal itu bukan karena keterpaksaan atau mengharap ketenaran. Namun, mereka memang ingin melakukan hal tersebut.

Mungkin banyak yang berpikir, oke seandainya saya memiliki banyak uang, maka saya juga akan menyumbang, saya akan meluangkan waktu untuk mereka. Tapi apakah ini bisa menjadi benar adanya? Manakala sukses di genggaman, akankah janji itu benar kita penuhi? Perlu diketahui, banyak orang sukses yang telah berbaur dengan kegiatan kemanusiaan, jauh sebelum mereka memperoleh kekayaan dan kesuksesannya.

Kekayaan dan kesuksesan, tidaklah selalu menjadikan kita memiliki banyak waktu luang. Banyak orang sukses dan kaya yang justru memiliki waktu terbatas, bahkan tidak ada waktu meski untuk diri mereka sendiri, apalagi untuk berbagi dengan yang lain.

Kekuatan memberi berasal dari dalam diri, sebuah sikap tanpa pamrih, yang datang dari hati nurani. Sikap ini tidak hanya muncul pada momen spesial, seperti ulang tahun, atau liburan semata. Senantiasa menyediakan waktu dengan tulus, karena ingin berbagi dengan apa yang telah kita miliki, menunjukkan apresiasi kita dan kepedulian yang sesungguhnya. Jangan sampai kita memberi berdasarkan motif tertentu dibelakangnya. Yang harus kita camkan adalah : memberi bukan untuk mengharapkan keuntungan sebaliknya. Namun, kita mau memberi karena memang kita menginginkannya.

Ketika kita mudah memberi dengan tulus, pada saat itu kita mengatakan pada pikiran bawah sadar bahwa kita memiliki kepedulian yang tulus dan ingin berbagi dengan apa yang kita miliki. Kita juga tidak peduli pada apapun yang akan didapatkan kembali, dan kita tidak peduli jika tidak ada yang memperhatikan maupun mengucapkan terima kasih.

Jika kita memberi dengan cara ini, maka respon yang kita dapatkan akan sungguh luar biasa. Kita akan merasakan banyak kemudahan di kemudian hari, seolah ribuan tangan mengulurkan tangan untuk membantu kita, meskipun kita tidak memintanya.

Nah, mulailah memberi dengan ketulusan! Yakinlah, suatu saat kita akan mendapatkan keuntungan ribuan kali lipat. Ingat, hanya memberi dari hati, bukan yang lainnya.

Satu hal, memberi merupakan bagian dari fitrah manusia. Karenanya, dengan memberi kita justru merasakan kenikmatan. Kita bisa melihat orang lain tersenyum, meski yang kita lakukan sepertinya sederhana. Meski kita tidak memiliki kekuasaan, kita tidak mampu membeli kado yang layak, atau memberi uang yang banyak, namun setidaknya kita masih bisa memberikan waktu kita. Kita bisa memberikan hal-hal kecil dan melakukan langkah kecil untuk orang lain. Percaya, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan lebih dari itu.

Apalagi jika kita mengaku sebagai seorang muslim, tentu saja akan besar pahala yang kita dapatkan dengan memberi. Ini hanya motivasi awal, agar kita juga tidak terlupa akan hak-hak orang lain yang dititipkan Allah melalui kita. Harta seorang muslim yang sesungguhnya bukanlah yang dibelanjakan untuk kepentingan pribadi. Namun, harta kita yang sesungguhnya adalah yang kita belanjakan di jalan dakwah, termasuk dengan memberikan kepada orang lain, yang tentu saja, yang berhak menerimanya.

Ingat, kita hanya memiliki hidup sekali. Maka, berbuatlah yang terbaik dan yakinlah bahwa sukses dan surga telah menanti kita!!

Jumat, 06 Januari 2006

Sudahkah Aku Bersyukur ?

[Didats Triadi] - Sehabis sholat Jumat, dan mendengarkan khutbah Jumat yang aku pikir cukup bagus (biasanya, aku ketiduran, atau tidak sengaja tertidur *ahlesan*), membuatku berfikir lebih jauh.
Khutbah Jumat tadi membahas tentang ilmu yang sudah kita dapat. Bukan masalah seberapa banyak ilmu yang sudah aku dapat, tapi sudah sejauh mana ilmu yang kudapat berguna bagi diriku dan orang lain. Ups! aku tertohok.
Juga, bagaimana seseorang harus selalu bersyukur tentang apa-apa yang telah ia dapatkan sekarang. Karena masih sangat banyak orang yang tidak seberuntung diriku. Ups! lagi-lagi aku tertohok.
Pembahasan hal seperti diatas mungkin BASBANG. Tapi aku suka dengan cara menyampaikan pesan-pesan seperti itu. Membuatku berfikir lebih dalam, bertanya ke dalam relung hatiku sendiri.
Selama di Bali, aku pikir aku mendapat pasokan gizi yang bagus. Hidupku mudah, tak ada beban, ringan sekali. Awal tahun ini aku juga mendapat banyak hal menyenangkan. Perusahaan baru, pasokan biaya baru, wah… aku menikmati diriku yang sekarang. Great live!
Tapi, sudahkah aku bersyukur? JLEB!
Aku berubah ke side A? ah tidak. Aku, tetaplah aku. Cowok melow, cowok berambut gondrong, cowok yang sudah mulai hitam *duh!*, dan cowok yang punya segudang harapan. Dan satu lagi, cowok jomblo! Hahaha…